Rabu, 23 November 2011

tanaman pala

. MENGENAL TANAMAN PALA
pala-merekah

Tanaman pala (Myristica fragrans Houtt) merupakan tanaman asli Indonesia yang berasal dari Kepulauan Maluku. Kemasyhuran pala sebagai tanaman rempah sudah dikenal sejak abad ke 16. Dalam perdagangan internasional, pala Indonesia dikenal dengan nama ”Banda nutmeg”. Sampai saat ini Indonesia merupakan produsen pala terbesar di dunia. Sebagai acuan untuk meningkatkan produktivitas dan mutu pala tersebut, secara bersambung akan disajikan pedoman teknis budidaya pala.

A. Klasifikasi

Pala Banda termasuk ke dalam famili Myristicaceae. Klasifikasi Myristica fragrans HOUTT adalah sebagai berikut :

  • Divisi/Devisio : Spermatophyta
  • Sub Divisi/Sub Devisio : Angiospermae
  • Kelas/Class : Dicotyledonae
  • Bangsa/Ordo : Ramales
  • Marga/Famili : Myristicaceae
  • Genera/Genus : Myristica
  • Jenis/Spesies : Myristica fragrans HOUTT

B. Morfologi Tanaman

Morfologi tanaman pala secara umum adalah sebagai berikut:

1. Batang

Bentuk pohon pala berpenampilan indah, tinggi 10-20 m, menjulang tinggi ke atas dan ke pinggir, mahkota pohonnya meruncing, berbentuk piramidal (kerucut), lonjong (silindris) dan bulat dengan percabangan relatif teratur. Berdasarkan informasi dari para petani pala di Maluku, penentuan pohon pala jantan dan betina secara dini (bibit) dapat diduga dari sudut percabangan. Percabangan mendatar diduga pohon betina dan sudut percabangannya meruncing diduga pohon jantan.

2. Daun

daun-pala

Daun tanaman pala

Daunnya berwarna hijau mengkilap dan gelap, panjang 5-4 cm dengan lebar 3-7 cm, panjang tangkai daun 0,4-1,5 cm.

Penentuan jenis kelamin secara dini dapat diduga dari bentuk helaian daun. Bentuk helaian daun lebih terkulai merupakan ciri pala betina. Sedangkan bentuk helaian daun yang relatif lebih kecil dengan letak daun lebih tegak, menunjukan pala jantan.

3. Bunga

Cara pembungaan pada pala unisexual-dioecious, walaupun terdapat juga yang polygamous/ hermaphrodite. Pala merupakan tanaman berumah dua (dioecous) dimana bunga jantan dan bunga betina terdapat pada individu/pohon yang berbeda.

Salah satu masalah dalam pengembangan pala adalah penentuan jenis pohon kelamin jantan dan betina harus menunggu sampai tanaman berbunga (lebih kurang 5 tahun). Dari 100 biji atau pohon pala rata-rata terdapat 55 pohon betina, 40 pohon jantan dan 5 pohon yang hermaphrodite.

Pohon jantan dicirikan oleh habitus yang lebih kecil dari betina, cabang lebih tegak, daun lebih kecil dan menghasilkan banyak bunga jantan dalam bentuk rangkaian yang membawa 3 sampai 15 bunga per kuntum sedangkan bunga betina sekitar 1 sampai 3 per kuntum.

Bunga keluar dari ujung cabang dan ranting. Bunga betina mempunyai kelopak dan mahkota meskipun perkembangannya tidak sempurna. Warna bunga kuning, dengan diameter ± 2,5 mm serta panjangnya ± 3 mm.

Mahkota bunga betina bersatu mulai dari bagian pangkal dan pada bagian atas terbuka menjadi 2 bagian yang sistematis. Kelopak kecil dan menutup sebagian kecil dari bagian bawah mahkota. Di dalam mahkota terdapat pistil yang bersatu dengan bakal bunga. Kepala putik terbelah pada bagian ujungnya.

Di dalam bakal buah terdapat bakal kulit biji dan bakal biji. Bentuk bunga jantan agak berbeda dengan bunga betina walaupun warna bunganya juga kuning, dengan diameter 1,5 mm dan panjang ± 3 mm. Mahkota dari bunga jantan bersatu dari pangkal pada 5/8 bagian dan kemudian terbagi menjadi 3 bagian. Kelopak berkembang tidak sempurna, bentuknya seperti cincin yang melingkar pada bagian pangkal mahkota.

Benang sari berbentuk silindris merupakan tangkai bersatu, panjangnya ± 2 mm. Sari melekat pada tangkai tersebut membentuk baris-baris yang jumlahnya 8 buah dan berpasangan. Antara baris dibatasi oleh jalur kecil ± 1/10 mm lebarnya.

4. Buah/Biji

2-buah-pala

Buah dan biji pala

Buahnya bulat sampai lonjong, berwarna hijau kekuning-kuningan, apabila masak akan berbelah dua, diameter 3-9 cm. Daging buahnya/ pericarp tebal dan rasanya asam. Biji berbentuk bulat sampai lonjong, panjangnya 1,5-4,5 cm dengan lebar 1-2,5 cm. Warnanya coklat dan mengkilap pada bagian luarnya. Kernel bijinya berwarna keputih-putihan. Fulinya merah gelap dan ada pula yang putih kekuning-kuningan dan membungkus biji menyerupai jala.

Petani pala di Maluku biasanya menentukan pala jantan atau betina dari bentuk bijinya. Biji yang memiliki permukaan ujung membukit diduga jantan dan biji yang bagian ujungnya rata diduga betina.

C. Jenis Tanaman Pala

Famili Myristicaceae hanya memiliki satu genus dengan ± 200 species yang tersebar di daerah tropis. Terdapat 8 jenis pala yang ditemukan di Maluku yaitu:

  1. Myristica succedawa BL., di Ternate disebut pala Patani,
  2. M. speciosa Warb, disebut pala Bacan atau pala Hutan,
  3. M schefferi Warb, disebut pala Onin atau Gosoriwonin,
  4. M. fragrans Houtt, merupakan pala asli Indonesia atau nutmeg tree yang berasal dari pulau Banda dan disebut pala Banda,
  5. M. fatua Houtt disebut pala Hutan (Ambon),
  6. M. argantea Warb disebut pala Irian atau pala Papua,
  7. M. tingens BL. dikenal dengan nama pala Tertia,
  8. M. sylvetris Houtt dikenal dengan nama pala Burung atau pala Mendaya (Bacan) atau pala Anan (Ternate).

Jenis Myristica fragrans HOUTT yang dibudidayakan di Indonesia, India, Grenada dan Malaysia karena kualitas biji dan fulinya mengandung meristerin terbaik dan kandungannya tinggi.

Deskripsi jenis – jenis tanaman pala :

1. Myristica fragrans Houtt (Pala Banda)

Bentuk percabangan teratur, daunnya kecil sampai sedang, buahnya bulat. Biji besar dan fulinya tebal dan keduanya berkualitas baik, tebal dan harum khas pala, tersebar diberbagai sentra produksi.

2. M. argentea (Pala Papua)

Bentuk pohon bulat, tinggi, besar dan rimbun. Percabangan tidak teratur, daunnya tebal dan lebar. Ciri khas yang paling menonjol adalah bentuk buahnya lonjong dan besar. Daging buah yang tebal dan besar cocok untuk bahan manisan, asinan, minuman dan bahan-bahan makanan serta minuman lainnya. Melihat keragaan pohonnya, pala jenis ini cocok sebagai pohon pelindung dan penghijauan. Pala jenis ini hanya terdapat di Papua dan Kep. Maluku.

3. M. speciosa (Pala Hutan)

Bentuk pohonnya bulat dan rimbun, percabangan tidak teratur, daunnya lebar dan agak tipis. Ciri khasnya adalah buah dan bijinya kecil sebesar biji kacang tanah, fulinya yang paling tipis diantara jenis pala yang lain. Pala jenis ini hanya cocok sebagai pohon pelindung dan penghijauan, banyak ditemukan di hutan kep. Maluku dan Papua.

4. M. succedawa (Pala Patani)

Bentuk pohon piramidal sampai lonjong, bentuk buahnya agak lonjong sedangkan bijinya bulat sampai lonjong dan fulinya agak tebal. Kualitas biji dan fulinya agak kurang dibandingkan pala Banda. Banyak dibudidayakan di Maluku Utara. Hasil eksplorasi dari berbagai daerah dan sentra produksi pala di kepulauan Maluku, Irian Jaya dan sulawesi Utara, telah terkumpul 430 nomor aksesi pala.dan telah dilakukan penelitian di KP. Cicurug Bogor, Jawa Barat diketahui ada dua aksesi yang mempunyai tingkat produksi yang paling tinggi yaitu turunan F1 pala Banda nomor 11 dan pala Patani nomor 33.

II. PERSYARATAN TUMBUH

A. Tanah

Tanaman pala memerlukan tanah yang subur dan gembur, terutama tanah-tanah vulkanis, miring atau memiliki pembuangan air atau drainase yang baik.

Tanaman pala akan tumbuh baik pada tanah berstruktur dari pasir bercampur lempung (loam). Makin rendah kandungan liat semakin baik untuk pertumbuhan tanaman pala. Keadaan pH tanah dengan kemasaman sedang sampai netral (pH 5,5-7,0) sangat cocok untuk pertumbuhan tanaman pala, karena kimia maupun biologi tanah berada pada titik optimum.

Kesesuaian lahan untuk tanaman pala sebagaimana hasil studi lingkungan dapat dilihat pada tabel berikut.

B. Iklim

Tanaman pala memerlukan iklim tropis yang panas dengan curah hujan yang tinggi tanpa adanya periode kering yang nyata. Rata-rata curah hujan di daerah asalnya (Banda) sekitar 2.656 mm/th dengan jumlah hari hujan 167 hari merata sepanjang tahun. Meskipun terdapat bulan-bulan kering, tetapi selama bulan kering tersebut masih terdapat 10 hari hujan dengan sekurang-kurangnya ± 100 mm/th, ketinggian 0-700 m di atas permukaan laut.

Suhu berkisar antara 18°C-34°C, suhu yang terbaik untuk pertumbuhan tanaman pala antara 25°C-30°C.

Tanaman pala sangat peka terhadap angin kencang, oleh karena itu penanaman pala membutuhkan tanaman pelindung atau penahan angin. Angin yang bertiup terlalu kencang, bukan saja menyebabkan penyerbukan bunga terganggu, tetapi juga menyebabkan buah, bunga dan pucuk tanaman akan luruh berguguran. Akan tetapi tanaman pelindung yang terlalu rapat dapat menghambat pertumbuhan pala, dan menjadi saingan dalam mendapatkan unsur hara. Tanaman pala menghendaki naungan yang rendah sekitar 25 – 30%. Pohon pelindung yang banyak ditanam di Maluku, Maluku Utara dan Sulawesi Utara adalah kenari dan kelapa sedangkan di papua umumnya bercampur dengan berbagai pohon hutan.

III. PERSIAPAN BAHAN TANAM

A. Pemilihan Pohon Induk

Sekitar 60-65% peningkatan produktivitas usaha tani ditentukan oleh penggunaan benih varietas unggul. Salah satu varietas unggul pala yang sudah terkenal adalah pala banda, Tidore, Siau, Ternate, Patani, dan Ambon.

Pengembangan pala masih menggunakan benih berupa biji. Disamping varietas unggul tersebut di atas keberhasilan usahatani pala ditentukan pula keberadaan pohon pala betina dan jantan. Beberapa syarat pohon induk pala adalah sebagai berikut :

  1. Jenis dan varietas pohon induk diketahui dengan jelas asal usulnya seperti pala Banda, Tidore, Ternate, Siau, patani dan Ambon.
  2. Umur pohon diatas 15 tahun, dengan produksi di atas 5000 buah/pohon/tahun (berproduksi tinggi).
  3. Pohon betina mutlak.
  4. Bentuk pohon piramidal atau silindris.
  5. Berbuah teratur setiap tahun dengan musim panen besar 2x setahun.
  6. Buah/biji besar berkualitas tinggi.
  7. Fuli tebal dan berkualitas tinggi.
  8. Bebas hama penyakit dan terpelihara dengan baik.

B. Penyiapan Benih Tanaman

Benih yang berkualitas adalah benih yang memenuhi mutu genetis, fisiologis dan fisik. Untuk mencapai tingkat kualitas tersebut maka pengelolaan benih perlu ditangani dengan tepat sejak panen buah, penyimpanan, pengecambahan sampai penanaman di lapangan.

Persyaratan benih pala antara lain:

  1. Buah berasal dari petik matang. Tanda buah petik matang antara lain kulit buah berwarna kusam, kuning kecoklatan. Masa pembuahan mulai pensarian sampai matang petik + 10 bulan.
  2. Biji segar berwarna coklat tua mengkilap
  3. Bobot biji pala minimal 50 gram/biji,
  4. Bebas hama dan penyakit.

Setelah pemetikan, biji pala segera disemaikan selambat-lambatnya ± 24 jam setelah penyimpanan. Untuk mendapatkan benih dengan daya kecambah yang tinggi sebaiknya biji diambil dari pohon induk yang letaknya berdekatan dengan pohon jantan.

Biasanya benih pala berkecambah 1-3 bulan setelah pengecambahan. Oleh karena itu, agar biji berdaya kecambah tinggi, biji harus segera disemai atau dikecambahkan atau dibawa dalam keadaan kelembaban yang tinggi. Untuk meningkatkan daya kecambah dan keseragaman berkecambah, sering dilakukan pemecahan kulit/tempurung pala disekitar titik tumbuh dengan tidak merusak mata tunas.

C. Perbanyakan Melalui Biji

Sebelum dibibitkan,benih pala dikecambahkan terlebih dahulu.

  1. Pengecambahan biji
    Tahapan kegiatan pengecambahan biji pala adalah sebagai berikut:
    a. Seleksi buah: dipilih matang petik, masa pembuahan 10 bulan dan bebas hama penyakit.
    b. Seleksi selaput fuli: dipilih yang tebal, berwarna merah tua, mengkilap dan bebas hama penyakit.
    c. Seleksi biji: berwarna coklat tua, mengkilap, bulat dan besar, bebas hama dan penyakit.
    d. Dikering anginkan selama 24 jam.
    e. Persiapan kotak atau tempat pengecambahan dengan media kecambah dari serbuk gergaji yang sudah lapuk atau kokopit (serbuk sabut kelapa) yang steril, dalam kotak atau bedengan pengecambahan dengan lebar 0,5-1 m dan panjang sesuai kebutuhan. Siram dengan air bersih seperlunya, jangan sampai basah atau tergenang, cukup lembab saja.
    f. Pengecambahan benih dengan meletakan benih pala dalam bentuk barisan yang teratur (0,50 x 1 cm atau 1 x 1 cm) mata tunas menghadap ke bawah. (lihat gambar 6)
    g. Selanjutnya ditutup dengan karung goni untuk menjaga kelembaban.
    h. Untuk mempercepat pengecambahan, tempurung pala diretakan secara hati-hati pada mata tunas sehingga retak atau belah dengan tidak merusak daging bijinya.
    i. Selanjutnya pemeliharaan dengan menjaga kelembaban.
    j. Setelah berumur 4-8 minggu, bakal akar sudah keluar dengan diikuti keluarnya kecambah yang menandakan benih bisa dipindahkan ke polibag (gambar 7).
    k. Kecambah dipindahkan kedalam polibag yang telah dipersiapkan terlebih dahulu (diisi dengan media campuran kompos/pupuk kandang dan tanah 1:1).
  2. Pesemaian
    a. Siapkan pesemaian ukuran 1,5 m x panjang bedengan. Kemudian dibuat atap pesemaian dari daun alang-alang/daun kelapa/parasut dengan tingkat naungan 30%
    b. Siapkan polibag ukuran 20cmx15 cm kemudian diisi dengan media tumbuh berupa campuran tanah dan pupuk kandang yang sudah matang dan steril dengan perbandingan 2 : 1. Polibag yang telah diisi media tumbuh diletakan berbaris ditempat pesemaian.
    c. Kecambah kemudian dibibitkan di polibag.
    d. Peliharaan bibit, sebagai berikut :
    • Penyiraman dilakukan seperlunya
    • Penyiangan gulma dilakukan dipesemaian dan polibag,
    • Pemupukan dilakukan dengan pupuk cair yang mengandung NPK 15%, dengan cara menyemprotkan larutan pupuk daun dengan konsentrasi 20% dan interval waktu penyemprotan satu minggu sekali.
    • Pengendalian serangan penyakit dapat dilakukan dengan disemprot larutan Dithane M45, konsentrasi 10 % secara teratur sebulan sekali.
    • Pengendalian serangan hama dilakukan dengan insektisida nabati.
    • Pembibitan selama + 1,5-2,0 tahun ada kalanya membutuhkan penggantian polibag yang lebih besar.
biji pala

Biji Pala yang sudah berkecambah

persemaian benih pala

Persemaian benih Pala dlm Polybag

benih pala polybag

Pemindahan benih pala ke polibag

pembibitan pala

Areal pembibitan tanaman pala

D. Perbanyakan Secara Vegetatif

Perbanyakan pala dapat pula dilakukan dengan cara vegetatif seperti cangkokan, okulasi, susuan dan sambung pucuk. Perbanyakan secara vegetatif jarang dilakukan, walaupun dapat berhasil dengan baik, namun tidak ekonomis karena keberhasilannya sangat rendah sekitar 10 %, dan hanya digunakan dalam tingkat penelitian.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar